Senin, 21 Desember 2009

farmakoterapi amubiasis

-->
AMEBIASIS
PENDAHULUAN
Amebiasis adalah penyakit parasit ketiga terbesar yang menyebabkan kematian setelah malaria and schistosomiasis . Amebiasis merupakan penyakit usus yang secara tipical diperoleh jika seseorang makan atau minum yang terkontaminasi parasit yang disebut Entamoeba hystolica parasit ini adalah amoeba yang bersel tunggal, sehingga penyakit yang disebabkannya disebut dengan amebiasis.
Entamoeba histolytica adalah protoa parasit anaerob bagian dari genus entamoba. Predominan menginfeksi manuasia dan primata yang lain. E. histolytica diperkirakan menginfeksi lebih kurang 50 juta penduduk dunia. buku yang lain menyatakan 10% dari penduduk dunia terinfeksi E. histolityca. Menyebabkan hampir 100.000 kematian.
MORFOLOGI DAN PENULARANNYA
Parasit ini memiliki dua bentuk dalam siklus hidupnya yaitu bentuk aktif (trofozoit) dan bentuk pasif (kista). Dimana perbedaan dari kedua bentuk ini dilihatkan dalam tabel 1 d
-->
No
trofozoit
kista
1
enhistro
ent his trof gambar
enhiskis
enhis minuta gambar
2
ukuran 10-60 μm
bentuk memadat mendekati bulat, ukuran 10-20μm
3
sitoplasma bergranular dan mengan-dung eritrosit, yang
merupakan penanda penting untuk diagnosisnya
kista matang memiliki 4 buah inti entamoba
4
terdapat satu buah inti entamoeba, ditandai de-ngan karyosom
padat yang terletak di tengah inti, serta kromatin yang tersebar
di pinggiran inti
tidak dijumpai lagi eritrosit di dalam sito-plasma
5
bergerak progresif dengan alat gerak ektoplasma yang lebar,
disebut pseudopodia.
bergerak progresif dengan alat gerak ektoplasma yang lebar,
disebut pseudopodia.

-->
Trofozoid hidup didalam usus atau hidup diantara sisi usus dan memakan bakteri. Bila terjadi infeksi trofozoid bisa menyebabkan diare, yang juga akan membawa trofozoid keluar dari tubuh kita. Di luar tubuh manusia, trofozoid yang rapuh akan mati. Jika pada sat infeksi seseorang tidak mengalami diare, trofozoid biasanya akan berubah menjadi kista sebelum keluar dari usus. Kista merupakan bentuk yang lebih kuat dan bisa menyebar, baik secara langsung dari orang ke orang atau secara tidak langsung melalui air dan makanan.
Penularan langsung terjadi melalui kontak dengan tinja yang terinfeksi. Penyakit ini paling sering ditemukan pada masyarakat yang tinggal di negara berkembang, yang derajat lingkungan kesehatannya buruk. Buah-buahan dan sayur-sayuran bisa terkontaminsai jika tumbuh didalam tanah yang diberi pupuk kotoran manusia, atau dicuci dengan air yang terkontaminasi atau diolah/disaijkan oleh seseorang yang terinfeksi.
Penyakit ini juga ditemukan pada orang yang telah mengadakan perjalanan ke negara berkembang dan pada pria homoseksual.
Mansuia dan kemungkinan primate yang lain merupakan host natural yang bisa menderita amebiasis dan menyebabkan penyebaran. Mamalia tipe lain seperti anjing, kucing juga bisa terdapat E. histolytica dalam tubuhnya, walaupun tidak ditemukan kista dalam fesesnya. Oleh karena organisme ini tidak bisa bertahan idup diluar tubuh dan binatang ini tidak menyebabkan penyebaran.
Distribusi Geografi
Amebiasis terdapat di seluruh dunia, yang paling utama terdapat di Negara berkembang, di daerah yang padat dan sanitasi yang buruk. Prevalensinya lebih tinggi pada daerah tropic, subtropik dan kutup utara dibandingkan dengan daerah yang tanpa iklim. Dalam Negara industri kelompok yang memiliki resiko yang tinggi adalah imigran, traveler, dan homoseksual
EPIDEMIOLOGI
  1. menyebar dari orang ke orang melalui penyebaran oral-feses
  2. penyebaran melaluio seksual bisa terjadi diantara laki yang melakukan sej dengan sesama jenis
  3. terjadi 40-50 juta kasus dan menyebabkan kematian 40.000-10.000 setiap tahunnya
  4. prevalensinya di US 4%
  5. prevalensi di dunia 10%
  6. prevalensi di daerah tropik 20-50%
  7. morbidity dan mortality terlihat di negara berkembang di central Amerika, Amerika Selatan, Afrika dan Asia
-->
  1. Siklus hidup Entamoeba histolytica infeksi oleh Entamoeba histolytica terjadi Karena masuknya(1) makanan, air atau tangan yang terkontaminasi oleh kista dewasa ke dalam tubuh melalui mulut. Excystation (2) terjadi dalam usus kecil dan trophozoites (3) dilepaskan,yang berpindah ke usus besar. Trophozoites membelah dengan pemelahan biner dan menghasilkan kista (4) ,kista dikeluarkan melalui feces. Karena kista ini dilindungi oleh dindingnya, kista ini dapat bertahan berhari-hari sampai berminggu-mingu di lingkungan luar dan bertanggung jawab untuk menularkannya.(Trophozoites juga dapat melewati feces, tetapi ketika sampai diluar tubuh dengan cepat dihancurkan.dan jika termakan melalui mulut, tidak akan bertahan karena lingkungan lambung. Pada banyak kasus trophozoites berada pada batas dinding usus(A: non-invasive infection) pada individu yang menjadi carrier dengan tanpa gejala yang memabawa kista.pada beberapa pasien trophozoites menyerang membrane mukosa usus (B: intestinal disease), atau melalui aliran darah,tempat diluar usus, seperti hati, otak, dan paru-paru(C: extra-intestinal disease)dengan menimbulkan gejala patologi


-->
Pada fase pathogen topozoid yang virulen menyerang usus, dinding usus, dan kadang-kadang mukosa. Disini mereka akan membunuh sel epitel, netrofil dan limposit. Dalam prosesnya mereka menyerang jaringan dan sel dan menghasilkan colitis.
Pada saat itu juga mereka masuk ke kapilari , yang dapat membawanya ke hati, paru dan otak. Di organ ini parasit dapat menyebabkan abses. Ledakan abses yang selanjutnya bisa melepaskan banyak tropozoid yang dapat masuk ke lumen. Seteleh mendapatkan makanan tropozoid mengeluarkan seluruh materila ingested dan terjadi penglihatan binar. Mereka menggulung dan membentuk kista, yang resisten terhadap lingkungan. Kista melewati saluran pencernaan dan keluar melaui feses. Di feses mereka dapat hidup 2-5 minggu, menunggu untuk host yang baru.
Pada fase non patogen topozoid memakan bakteri dan mengalami detritus pada lumen usus. Mereka tidak menyerang membran dan tidak membentuk ulcer atau abses. Setelah mendapat makanan, mereka menggelung dan membentuk kista, yang sama dengan fase patogen.
GEJALA
Kebanyakan penderita, terutama yang tinggal di daerah yang beriklim sedang, tidak menunjukkan gejala. Kadang-kadang gejalanya samar-samar, sehingga hampir tidak diketahui. Gejalanya bisa berupa diare yang hilang timbul dan sembelit, banyak buang gas (flatulensi) dan kram perut, bila disentuh perut akan terasa nyeri dan tinja bisa mengandung darah dan lendir. Bisa terjadi demam ringan. Diantara serangan, gejala-gejala tersebut berkurang menjadi kram berulang dan tinja menjadi sangat lunak. Sering terjadi penurunan berat badan dan anemia. Bila trofozoit menyusup ke dalam dinding usus akan terbentuk suatu benjolan besar (ameboma).
Ameboma bisa menyumbat usus dan sering disalah-artikan sebagai kanker.
Kadang trofozoit menyebabkan perlubangan pada dinding usus. Jika isi usus sampai masuk ke dalam rongga perut akan terjadi nyeri perut yang hebat dan infeksi perut (peritonitis). Invasi trofozoit ke usus buntu dan usus di sekelilingnya bisa menyebabkan apendisitis (peradangan usus buntu) ringan. Pembedahan yang dilakukan untuk mengatasi apendisitis bisa menyebarkan trofozoit ke seluruh perut. Oleh karena itu, pembedahan bisa ditunda sampai 48-72 jam dan selama itu diberikan obat-obatan untuk membunuh trofozoit.
Di dalam hati bisa terbentuk suatu abses yang berisi trofozoit.
Gejalanya adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di daerah hati, demam yang hilang-timbul, berkeringat, menggigil, mual, muntah, kelemahan, penurunan berat badan dan kadang sakit kuning (jaundice) ringan. Kadang-kadang trofozoit menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di paru-paru, otak serta organ lainnya. Kulit juga bisa terinfeksi, terutama kulit di sekitar bokong dan alat kelamin. Selain itu infeksi juga bisa terjadi pada luka karena pembedahan atau luka karena cedera.
Jenis infeksi
  1. asymptomatic infeksi : luminal amebiasis
  2. invasis intestinal amebiasis (disentri, colitis, appendicitis, toxic megacolon, amebomas)
  3. invasive extraintetinal amebiasis (liver abscess, peritonitis, pleuropulmonary abscess, cutaneous and genital amebic lesions)
gejala untuk infeksi nonpatogen (90%)
Kebanyakan tidak menimbulkan gejala, dan terlihat seperti tidak ada penyakit. 4-10% dari asimptomatik bisa berkembang menjadi infeksi simptomatik dalam 1 tahun. Untuk alas an ini dengan tegas dissarankan untuk diobati
gejala untuk intestinal (9%)
Gejala terjadi 1-4 minggu setelah termakan. Gejalanya samar-samar dan gejala abdominal nonspesifik seperti feses yang encer, berdarah dan diare, nyeri abdominal, cram, flatulen,turun berat, dan kronik fatigue. Demam terjadi secara tiba-tiba dan pembesaran kolon jarang terjadi (0.5% pasien)
ekstraintestinal (1%)
  1. hati :
abses pada hati ( dapat terjadi berbulan-bertahun-tahun setelah bepergian ). 10 kali lebih umum terjadi pada pria dari wanita, dan jarang terjadi pada anak-anak. Gejalanya termasuk demam, batuk, nyeri perut, nausea, diare, ulcer, konstipasi, gas, pembesaran hati, dan bera menurun. Gejala dapat kurang dari 10 hari, walaupun yang lainnya bersifat kronik (ex; berta berkurang )
  1. saluran pernapasan : gejalanya termasuk batuk dan nyeri pada dada
  2. otak : sangat jarang terjadi, gejalanya sakit kepala, muntah, seizure. 50% dari pasien dengan abses serebral meninggal
  3. yang lain :ini bisa juga menyerang area saluran kencing, penyakit kelmain, penyakit perinial dan lesi kutaneus.

KOMPLIKASI

  • Dehidrasi
  • Abses hati
  • Kelainan otak
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan ditemukannya amuba pada contoh tinja penderita. Amuba penyebab amebiasis tidak selalu ditemukan pada setiap contoh tinja, karena itu biasanya diperlukan pemeriksaan tinja sebanyak 3-6 kali.
Suatu protoskop bisa digunakan untuk melihat bagian dalam rektum dan untuk mengambil contoh jaringan ulkus (luka terbuka) yang ditemukan disana.
Pada abses hati, kadar antibodi terhadap parasit hampir selalu tinggi.
Antibodi ini bisa tetap berada dalam darah selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, karena itu kadar antibodi yang tinggi tidak selalu menunjukkan adanya abses pada saat ini. Jika diduga telah terbentuk abses hati, diberikan obat pemusnah amuba.
Laboratory Diagnosis:
Entamoeba histolytica harus dibedakan dari protozoa usus lain seperti E. coli, E. hartmanni, E. gingivalis, Endolimax nana, Iodamoeba buetschlii (amoba nonpatogen); Dientamoeba fragilis (yang mempunyai flagelata tapi bukan amoba); dan kemungkinan patogen Entamoeba polecki. Mungkin terjadi perbedaan tetapi tidak selalu mudah, berdasarkan karakteristik morfologi dari bentuk kista dan trophozoites. Amoba nonpatogen Entamoeba dispar, morfologinya identik dengan E. histolytica, dan untuk membedakannya harus berdasarkan isoenzimatic atau analisis imunologic. Metoda molekuler juga berguna dalam membedakan antara E. histolytica and E. dispar dan dapat juga digunakan untuk mengidentifikasi E. polecki. Identifikasi mikroskopis dari kista dan trofozoid dalam tinja merupakan metoda yang umum dalam mendiagnosa E. histolytica. Ini dapat diselesaikan dengan menggunakan
1. feses segar
  1. konsentrat dari feses segar
TREATMENT
Tidak ada propilaksis yang efektif. Enterovioform bukanlah propilaksis yang efektif, janagan menggunakan ini , karena ini juga berpotensi menyebabkan penyakit mata yang serius.
Pengobatan untuk tiap orang berbeda, tergantung kepada tingkat infeksi yang diderita.
1. infeksi noninvasif (asimptomatik ) dapat diobati dengan agen luminal : paramomycin, iodoquinol, diloxanide
2. infeksi invasif (simptomatik) menggunakan metronidazol, atau tinidazol dan secepatnya di ikuti dengan pengobatan iodoquinol, paromomycin, or diloxanide furoate


-->

Tidak ada komentar: